Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Ketika Robot Lebih Ekonomis dari Manusia: Populasi AI Diprediksi Tembus 4 Miliar pada 2050, Siap-Siap Terpinggirkan?

Table of contents: [Hide] [Show]

JAKARTA – Dunia sedang berada di ambang revolusi tenaga kerja terbesar sepanjang sejarah. Bukan sekadar mesin yang membantu manusia, tetapi kecerdasan buatan (AI) dan robot diprediksi akan mengambil alih posisi pekerja secara massal.

Sebuah laporan futuristik dari Citi bahkan meramalkan bahwa dalam beberapa dekade mendatang, populasi robot akan meledak hingga menyalip jumlah manusia yang bekerja.

Rob Garlick, mantan Head of Innovation, Technology, and Future of Work, mengungkapkan bahwa dorongan utama di balik fenomena ini adalah hasrat bisnis terhadap profitabilitas.

Dalam wawancara dengan CNBC yang dikutip pada Selasa (24/2/2026), Garlick menjelaskan bahwa sistem ekonomi modern mengagungkan keuntungan. Ketika obsesi ini bertemu dengan kemajuan teknologi yang eksponensial, terjadilah “perdagangan terbesar dalam sejarah”.

“Kecerdasan buatan akan melakukan lebih banyak, lebih baik, dan lebih murah,” tegas Garlick. “Dan pada akhirnya, itu akan mampu menggantikan peran manusia secara fundamental.”

Laporan Citi yang dirilis pada tahun 2024 memberikan angka-angka yang mencengangkan. Populasi robot AI mulai dari humanoid canggih di pabrik, asisten virtual, hingga mobil otonom yang melintas di jalanan—diperkirakan akan melonjak drastis.

Baca Juga : Terungkap! Ini 5 Link yang Diam-diam Paling Sering Dicari Remaja di Internet Saat Ini

Pada tahun 2035, jumlahnya diproyeksikan mencapai 1,3 miliar unit. Namun, puncaknya terjadi pada tahun 2050, di mana populasi robot AI diperkirakan menyentuh angka 4 miliar.

Efisiensi yang Tak Tertandingi Manusia

Apa yang membuat robot begitu menarik bagi pemilik bisnis? Jawabannya terletak pada perhitungan ekonomi yang kejam. Laporan Citi menyertakan simulasi “balik modal” yang menjadi mimpi buruk bagi tenaga kerja manusia.

Hitung sendiri:

· Robot senilai USD 15.000 (sekitar Rp 244 juta) yang menggantikan pekerja manusia dengan upah USD 41 per jam (sekitar Rp 668 ribu) akan balik modal hanya dalam 3,8 minggu.
· Robot yang lebih canggih seharga USD 35.000 (sekitar Rp 570 juta) untuk pekerjaan serupa akan mencapai titik impas dalam 8,9 minggu.

“Anda saat ini sudah bisa membeli robot humanoid dengan periode pengembalian modal kurang dari 10 minggu. Manusia tidak dapat bersaing dalam hal ini,” pungkas Garlick dengan nada peringatan.

Fenomena ini bukan lagi soal apakah robot bisa bekerja seperti manusia, tetapi murni soal efisiensi biaya. Dengan periode pengembalian investasi yang begitu cepat, adopsi robotika dan AI akan menjadi keniscayaan bagi perusahaan yang ingin bertahan di pasar kompetitif.

Dampak Sosial dan Masa Depan Pekerjaan

Ledakan populasi AI ini membawa pertanyaan besar: apa yang akan terjadi pada miliaran manusia yang pekerjaannya “lebih mahal” dan “kurang efisien”?

Para ahli menyebut ini adalah panggilan untuk melakukan evolusi besar-besaran dalam sistem pendidikan, pelatihan ulang tenaga kerja, dan bahkan konsep ekonomi itu sendiri.

Jika prediksi ini menjadi kenyataan, dunia tidak hanya akan menyaksikan mesin yang membantu, tetapi juga persaingan eksistensial antara manusia dan kecerdasan buatan di arena ekonomi.

Siap atau tidak, era baru di mana robot menjadi “warga” mayoritas di tempat kerja semakin mendekat. (FD)

Share: